“Terkadang, kebaikan besar menuntut pengorbanan yang tulus. Kesetiaan dan kepekaan terhadap petunjuk alam akan membawa terang dalam masa sulit.
”
Mimpi di Kampung Kayo Batu
Di Kampung Kayo Batu, Teluk Imbi, Jayapura, penduduknya dikenal terampil membuat gerabah dari tanah liat yang disebut sempe. Namun, tanah subur kampung itu perlahan menjadi gersang, membuat hasil pertanian dan tangkapan ikan kian berkurang. Warga bahkan sering menahan lapar meski telah menggelar berbagai ritual persembahan kepada para dewa.
Di tengah keprihatinan itu, seorang pemuda bernama Cabo Pui bermimpi tentang sebuah batu pipih yang indah. Dalam mimpinya, ia bertemu seorang perempuan yang memiliki batu serupa, dan bersama-sama mereka membuat gerabah yang membawa kemakmuran bagi kampung. Yakin mimpi itu adalah pertanda, Cabo bertekad mencari batu tersebut—seorang diri, ditemani anjing setianya, Abu. Sebelum berangkat, ia berpesan kepada saudaranya, Tiaghe, untuk memperhatikan tanda-tanda alam dan menyusul ke Tanjung Suaja jika pertanda itu muncul.
Perjalanan Menuju Kampung Ormu
Cabo dan Abu menyusuri Sungai Numbai, mendaki bukit, dan singgah di beberapa kampung dalam perjalanannya. Di Kampung Abar, ia bertemu seorang warga bernama Abo yang menjamunya dengan ramah, namun tetua adat setempat tidak mengizinkan Cabo ikut membuat sempe di sana. Tanpa berkecil hati, Cabo melanjutkan perjalanan melewati bukit terjal menuju wilayah utara.
Setelah melewati kabut tebal, Cabo tiba di Kampung Ormu dan bertemu pemimpinnya, Sirwai. Ia menceritakan mimpi dan tujuannya kepada Sirwai, yang kemudian mengajaknya menyusuri jalan menuju tempat batu itu berada. Sirwai menyambutnya layaknya saudara dan menjamu Cabo bersama para lelaki Kampung Ormu.
Pengorbanan Suci Tanjung Suaja
Sebelum Cabo pulang, Sirwai mengungkapkan bahwa batu yang diimpikannya telah ada di dalam nokennya—namun batu itu memiliki kekuatan gaib yang menuntut pengorbanan besar dari Cabo demi kemakmuran kampungnya. Meski bingung, Cabo memantapkan hati untuk menerima takdir itu demi kebahagiaan warga Kayo Batu.
Ditemani Abu, Cabo berlayar menembus gelapnya malam hingga tiba di Tanjung Suaja. Ia membakar perahunya, membersihkan diri di laut, lalu mendaki puncak bukit. Di sanalah ia merasakan energi luar biasa mengalir dalam tubuhnya—sebelum akhirnya tubuh Cabo dan Abu terjatuh ke dalam sebuah celah yang seketika menutup, menelan mereka berdua untuk selamanya.
Di kampung, Tiaghe yang tengah mencari ikan menyadari hasil tangkapannya kembali melimpah—sebuah pertanda yang membuatnya teringat pada Cabo. Merasa gelisah, ia dan istrinya menyusuri jejak Cabo hingga ke Tanjung Out, tempat mereka menemukan sisa perahu yang terbakar serta batu ajaib yang terkubur di tanah merah.
Dengan hati pilu, Tiaghe menyadari mereka tak akan pernah bertemu Cabo lagi. Mereka membawa pulang batu dan tanah merah itu, lalu membuat mangkuk kecil yang setelah dibakar menjadi kerajinan bernama kecabo. Sejak saat itu, kerajinan tanah liat khas Kayo Batu terus berkembang, dan kemakmuran kampung perlahan pulih berkat pengorbanan Cabo Pui.
Cerita Lainnya




