“Keindahan sejati lahir dari ketulusan dan kerja keras. Sebaliknya, rasa iri dan permusuhan hanya membawa penyesalan mendalam.
”
Buah Pandan Ajaib Bumberi
Di pegunungan Bumberi, wilayah Fak-Fak, hiduplah seorang perempuan tua bersama seekor anjing betina kesayangannya. Keduanya menggantungkan hidup dari hutan, mencari buah-buahan dan kuskus setiap hari untuk bertahan hidup.
Suatu ketika, dalam perjalanan mencari makan yang cukup panjang, anjing itu kehabisan tenaga hingga mereka berhenti di sebuah tempat yang dipenuhi pohon pandan berbuah lebat. Perempuan tua itu memberikan buah tersebut kepada anjingnya yang kelaparan. Tak disangka, tak lama setelah memakan buah itu, perut sang anjing membesar dan ia melahirkan seekor anak anjing. Penasaran, perempuan tua itu turut memakan buah yang sama—dan mengalami hal serupa: ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Kweiya.
Kweiya Tumbuh Dewasa dan Kapak Besi
Kweiya tumbuh menjadi pemuda yang tekun membuka hutan untuk berkebun, meski hanya berbekal kapak batu sederhana. Setiap hari ia dan ibunya membakar tumpukan daun dari pohon yang ditebang, hingga asapnya mengepul tinggi ke langit tanpa mereka sadari telah menarik perhatian orang dari kejauhan.
Seorang pria tua yang sedang memancing di laut melihat kepulan asap misterius itu dan memutuskan untuk mencari sumbernya. Setelah berjalan kaki selama seminggu, ia akhirnya tiba dan bertemu Kweiya. Dengan ramah, pria itu memberikan sebuah kapak besi—alat yang jauh lebih tajam dari kapak batu milik Kweiya—untuk membantunya menebang pohon.
Kweiya, yang ingin memperkenalkan pria itu kepada ibunya, menyembunyikannya di dalam bungkusan batang tebu. Ketika sang ibu diminta mengambilkan tebu untuk melepas dahaga Kweiya, ia terkejut mendapati seorang pria di dalam bungkusan itu. Setelah dijelaskan bahwa pria itulah yang memberikan kapak besi yang begitu berguna, sang ibu pun menerimanya dan mereka bertiga hidup bersama. Dari kebersamaan itu, lahirlah beberapa anak lain yang menjadi adik-adik tiri Kweiya.
Penyesalan dan Perubahan Wujud
Seiring waktu, hubungan mereka merenggang karena rasa iri para adik tiri terhadap Kweiya. Suatu hari ketika kedua orang tua sedang mencari ikan, para adik tirinya mengeroyok dan melukai Kweiya. Terluka dan kesal, Kweiya bersembunyi sambil meminta tali dari kulit pohon genemo.
Kweiya
“Ek, ek, ek!”
Ketika ibunya pulang dan memanggil-manggil namanya, yang terdengar bukan lagi suara manusia, melainkan bunyi 'ek, ek, ek!'—Kweiya telah berubah wujud menjadi seekor burung ajaib dan melompat dari atap rumah menuju dahan pohon.
Sang ibu yang sedih mengikuti jejak anaknya dan turut berubah wujud menjadi burung, lalu bertengger bersama Kweiya di dahan yang tinggi sambil berkicau riang. Sejak itulah burung cenderawasih muncul di bumi, dengan perbedaan wujud antara jantan (disebut siangga) dan betina (disebut hanggam tombor) dalam bahasa Iha di daerah Onin, Fak-Fak. Adik-adik tirinya yang menyesal kemudian saling melempar abu tungku hingga wajah mereka berubah warna, lalu ikut berubah menjadi burung-burung lain yang tersebar di hutan.
Cerita Lainnya




