“Alam menyimpan keajaiban yang patut dijaga dan dihormati, bukan dieksploitasi. Kebersamaan dalam melestarikan warisan leluhur adalah wujud rasa syukur tertinggi.
”
Amarah Sang Dewa Iriwonawani
Di Gunung Kamboi Rama, Kepulauan Yapen, Papua, terdapat dua desa kecil yang bertetangga: Desa Kamboi Rama, tempat manusia bermukim, dan Desa Aroempi, yang dipenuhi tanaman sagu milik tuan tanah bergelar Iriwonawani. Setiap hari, kaum lelaki Desa Kamboi Rama pergi berburu, sementara para wanitanya mencari sagu di Desa Aroempi—tak lupa melakukan pemujaan kepada Dewa Iriwonawani sebelum mengambil hasil buminya.
Karena sagu di Desa Aroempi terus-menerus diambil tanpa henti, persediaannya kian menipis. Dewa Iriwonawani murka dan memindahkan seluruh tanaman sagunya ke tempat lain. Ketakutan, penduduk Desa Kamboi Rama pun mengungsi ke daerah pantai atas perintah kepala suku dan mendirikan permukiman baru bernama Desa Randuayaivi. Namun, ada satu pasangan yang memilih bertahan: Irimiami dan istrinya, Isoray.
Batu yang Mengeluarkan Api
Suatu hari sepulang dari ladang, Isoray duduk beristirahat di atas sebuah batu besar dan tiba-tiba menjerit kepanasan. Irimiami yang penasaran ikut menyentuh batu itu dan merasakan panas yang sama. Untuk membuktikannya, ia meletakkan sepotong daging rusa di atas batu tersebut—dan tak lama kemudian, daging itu matang dengan sendirinya.
Isoray
“Aduh, panas sekali! Batu ini mengeluarkan energi panas yang luar biasa!”
Keesokan harinya, mereka mencoba lagi dengan meletakkan rumput dan dedaunan kering di atas batu. Kali ini, dedaunan tersebut justru terbakar hingga apinya membesar dan terlihat jelas dari Desa Randuayaivi di tepi pantai. Warga pun berbondong-bondong naik untuk memadamkan kebakaran itu bersama-sama.
Batu Keramat yang Dihormati
Setelah api berhasil dipadamkan, Irimiami dan Isoray menceritakan keajaiban batu tersebut kepada seluruh warga. Ketika dicoba kembali, batu itu benar-benar mampu memasak daging tanpa api dari luar. Melihat keajaiban ini, Irimiami dan Isoray mengusulkan agar diadakan pesta adat setahun sekali di sekitar batu tersebut—usul yang disetujui oleh ketua adat Desa Randuayaivi.
Sejak saat itu, batu tersebut dianggap sebagai Batu Keramat oleh masyarakat Kepulauan Yapen. Setiap tahun, warga berkumpul membawa aneka makanan untuk dimasak bersama di sekitar batu itu sembari mempererat tali persaudaraan—sebuah tradisi yang masih lestari hingga kini.
Cerita Lainnya




